Komik Renungan

Beberapa hari yang lalu saya ke visi di festival city link, tujuannya untuk membeli buku renungan buat bahan warta GKWI, gereja yang dibentuk oleh saudara saya dan dimana saya bertugas sebagai pembuat wartanya..

Pas lagi jalan-jalan, liat2 buku, ada 1 tempat, disitu tempat buku renungan, dari renungan untuk anak kecil, remaja, sampai dewasa..harganya juga ga mahal, rata2 untuk renungan tipis sekitar Rp 5.000 (baru tau…ga pernah beli sih…wkwkwk..dulu pernah beli manna sorgawi, harganya sekitar Rp 10.000..sekarang ga tau brapa.. :D). Saya bingung milih2 mana yang cocok untuk semua kalangan (muda-tua) supaya ga jenuh n nyambung kalo dibaca. sampe ahirnya saya menemukan sebuah buku renungan berupa komik 😀

Dalam hati, wahhh…komikkkk~…maklum, saya ini agak freak ama komik.. 😀 jenis apa juga dibaca. Tanpa pikir panjang, langsung aja itu buku digondol bersama 2 buku renungan lainnya ke kasir..XD. Mungkin buku ini udah lama terbitnya, soalnya di rak juga cuma tinggal 2, yang 1 udah lepas sampul, yang 1 yang saya gondol masi disampul tapi ada cacat dikiit, tapi yang pasti, ini solusi buat orang kaya saya, males baca alkitab n renungan…hahahahhaha..tapi kalo baca komik getol amat..XD

Isi komiknya baguss…ada banyak judul didalemnya, dan nanclep banget..apalagi dengan adanya gambar, ilustrasi semakin jelas..trus isinya bukan cerita yang kaku, tapi ada banyak lucunya juga jadi ga bosen bacanya..disertai dengan ayat alkitab yang berhubungan juga..hehehehee.. 🙂

Padahal jarang2 saya liat buku di visi, ternyata Tuhan emang bae, masi inget aja ama saya, secara udah jarang ke gereja, lupa sama Tuhan, tapi Tuhan itu ga pernah ninggalin..Dia kasih jalan supaya kita bisa kembali dengan berbagai cara :D.

Tak Terasa Sudah Mau USTA :)

OMG~ ga kerasa banget udah 4 taun berlalu.. semester demi semester, mk demi mk, dosen demi dosen udah dilalui, minggu lalu sudah prasidang dengan penuh jerih payah..disidang sampe bingung mau jawab apa..jawab ya salah, jawab tidak salah..kwkwkwkw… :)) alhasil saya mendapatkan kata “revisi buat USTA ya!” yang keluar dari mulut sang pembimbing.. Puji Tuhan XD

Walaupun bimbingan saya ngaraco, males, sempet sebel juga gara2 ditambah ini itu, tapi dengan kata2 itu, saya merasa, you’re my advisor!! luv u~..wkwkwkwkwk… Beliau juga sempat sedikit membela saya waktu saya kesusahan dan kebingungan, sampe katanya sih, saya mah ga liat langsung, kata teman2 yg menonton, mukanya udah betee..wkwkwkwkkw.. i’m so sorry~…X( thank you so much much muchh~…XD

Sekarang, tinggal menunggu tepat 7 hari sampe saya USTA dan HARUS mendengar kata “selamat, anda S.Kom”!!! Saat yang paling ditunggu2, tapi rasa2 sekarang grogi juga, panik, takut, ada rasa pengen kabur, lari ke ujung duniaa…wkkwkwkwk…tapi, demi mencapai itu semua, saya harus berani menghadapi, ga boleh kabur, walaupun bikin perut sakit saking tegangnya, stress ditanya2, stress diuji, i have to face it!! XD

Sisa 6 hari dari 13 hari yang diberikan untuk revisi, Puji Tuhan tinggal sedikit (dari kesalahan yang ketawan) dan masih banyak (dari kesalahan yang tidak ketawan) wkwkwkwkwk… =))

Selama 4 tahun ini, banyak suka duka yang dilalui, dari cengo karna tidak tahu apa2, sama sekali ga da basic di IT, dan belajar banyak hal sehingga lumayan tau walaupun itu cuma setitik dari selembar kertas.. 😀 Banyak dosen yang ngasih advice2 berguna baik untuk sekarang maupun masa depan, salah satunya adalah pembimbing KP saya, thanks a lot sir 😀 Juga suka duka tawa marah yang didapet dari teman2 tercinta..you’re my best friends guys! 😀 maaf seribu maaf untuk yang merasa dikesalkan >,< doesn’t mean like that, sorry!

Tinggal 1 langkah lagi menuju dunia baru, dunia kerja..semoga langkahnya bisa maju bukan mundur..>,< hope so, please guided me God! Opened Your way to me, believe Your plans are always beatiful for me 🙂

Kisah Pohon Apel

Cerita ini saya ambil dari http://www.klinikrohani.com/2008/12/kisah-pohon-apel.html, karena menurut saya sangan bagus dan berkesan sekali… 🙂

mudah-mudahan cerita ini juga bisa jadi inspirasi bagi kalian yang membacanya 🙂

Suatu ketika, hiduplah pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di bawah teduh dan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula, pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.

“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang; tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. ”

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel.

“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”

“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi deganku,” kata pohon apel.

“Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”

“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah .” Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.”Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.”

“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel.

“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”

“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.” Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua.
Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.

Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

MengenalMu-GMB (Giving My Best)

BILA KU BUKA MATAKU
DAN LIHAT WAJAH-MU
KU TERKAGUM

BILA KU LIHAT HIDUPKU
DAN KARYA TANGAN-MU
KU TERSANJUNG

KAR’NA SEMUA YANG BAIK
DALAM HIDUPKU
ITULAH KARYA-MU
KAU B’RI K’SEMPATAN YANG BARU

REFF:
DAN KU INGIN MENGENAL-MU, TUHAN
LEBIH DALAM DARI S’MUA YANG KU KENAL
TIADA KASIH YANG MELEBIHI-MU
KU ADA UNTUK MENJADI PENYEMBAH-MUBILA KU BUKA MATAKU
DAN LIHAT WAJAH-MU
KU TERKAGUM

BILA KU LIHAT HIDUPKU
DAN KARYA TANGAN-MU
KU TERSANJUNG

KAR’NA SEMUA YANG BAIK
DALAM HIDUPKU
ITULAH KARYA-MU
KAU B’RI K’SEMPATAN YANG BARU

REFF:
DAN KU INGIN MENGENAL-MU, TUHAN
LEBIH DALAM DARI S’MUA YANG KU KENAL
TIADA KASIH YANG MELEBIHI-MU
KU ADA UNTUK MENJADI PENYEMBAH-MU

Download lagu:  MengenalMu.mp3 – GMB (Giving My Best)

Salam Bagi Sahabat – Glenn Fredly

Bagai mentari bersinar
Di indahnya pagi
Adalah hidupmu
Siap memancarkan sinar

Lihatlah hidupmu
Penuh dengan kesempatan
Walau beban hidup menghalang
Jangan lari dari bebanmu

Adalah berita
Dari seorang sahabatku
Indahnya hidupmu
Jangan pernah kau hempaskan

Pengharapan datang
Bila kau membuka hatimu
Cari dan temukan pastikan
Pengharapan ada padamu

Hidupmu indah
Bila kau tahu
Jalan mana yang benar
Harapan ada, harapan ada
Bila kau mengerti

Hidupmu indah
Bila kau tahu
Jalan mana yang benar
Harapan ada, harapan ada
(pastikanlah)
Bila kau percaya

Pengharapan datang
Bila kau membuka hatimu
Cari dan temukan pastikan

Download lagu: Salam Bagi Sahabat-Glenn Fredly
Lirik: Salam Bagi Sahabat-Glenn Fredly.lrc

Menabur dan Menuai

Adalah seorang petani yang harus bepergian. Dia memberikan benih sayuran kepada anaknya dan menyuruhnya untuk menanamnya. Dengan modal tenaga dan apa yang sudah diajarkan ayahnya, anak itu mengelola ladang sayuran dengan susah payah sekali.
Luar biasa, dia berhasil, dan saat ayahnya pulang, dia melihat ladang sayuran luas dari yang tadinya hanyalah beberapa benih sayuran. Kemudian dia pun mengetahui kalau banyak penduduk desa diberkati karena ladangnya itu. Sang ayah luar biasa bangga, dan dia menangis saat anaknya berkata, “ini semua berkat ayah!”.
Dalam kehidupan ini pun sama, seperti halnya si petani memberikan benih sayuran kepada anaknya, Aku memberikan talenta sebagai biji sayur. Kehidupan ini sebagai ladang dan manusia-manusia lain sebagai penduduk desa.

sumber: GFresh vol73 thn 2006, cuplikan komik Get dan Fresh “One of Her Days”